![]() |
| Sumber : https://nurbaitihikaru.wordpress.com/2015/12/18/review-film-bulan-terbelah-di-langit-amerika/ |
H+3 Hari Raya Idul Fitri 1438 H tepatnya tanggal 28 Juni
2017, pulang dari mudik waktunya merayakan lebaran kembali di Turen. Niatnya
mau cerita tentang pengalaman mudik tahun ini, tapi ketika membuka laptop
terfikirkan untuk kembali menonton film yang bernuansa religi yang ada di
laptopku. Walaupun tidak membawa hard disk ke rumah, tapi untunglah masih ada
film ini di laptop judulnya “Bulan Terbelah di Langit Amerika” seri ke-2 dari
film 99 Cahaya di Langit Eropa.
Cerita berlanjut ketika “Hanum dan Rangga” dua tokoh utama
di film ini sama-sama pergi ke Amerika dengan misi yang berbeda. Hal yang
paling berkesan dalam film ini adalah mengenai bagaimana sebuah iman seorang
muslim ditantang untuk tetap kokoh dan berani “speak up” menyampaikan
pemahamannya di tengah kalangan yang tidak paham dan cenderung memiliki
pemahaman negatif terhadap kaum muslim. Terima kasih kepada mbak Acha Septriasa
yang sudah memerankan tokoh Hanum dengan sangat tegas dan yakin. Scene ketika tetangga Julia
mengembalikan kue tart “menolak” pemberian kue dari Julia karena Julia seorang
muslim, namun Hanum berinisiatif untuk dengan tegas mengambil kue tersebut dan
memberikannya kembali ke tetangga Julia serta menyampaikan mengenai “pesan
saling mengasihi tetangga dan orang lain” merupakan aksi heroik yang setiap
muslim perlu terus menambah khasanah diri akan pemahaman nya terhadap agama
Islam.
![]() |
| Sumber : http://showbiz.liputan6.com/read/2367844/film-bulan-terbelah-di-langit-amerika-tidak-dibelah-dua |
Apalagi dengan adanya dialog Rangga dengan teman nya mengenai keberanian akan keputusan membuat komitmen bahwa "tidak bisa berbeda dengan tidak mau". Maka kembali "if you want there will a way, but if you dont want it, you will fing an excuse". Selain itu ketika Hanum dengan yakin terus menyampaikan apa misi nya walaupaun pintu rumah Julia telah tertutup untuknya, dengan kalimat bahwa hanya Julia yang dapat menyampaikan pesan bahwa “Dunia tidak akan lebih baik tanpa Islam” menggerakkan Julia untuk mau membukakan pintu rumah nya kembali dan bersedia menjadi responden bagi Hanum. Lagi-lagi film yang ku tonton mengenai perjuangan seorang jurnalis yang menyampaikan pesan luhur nya melalui pena. MasyaAllah... Jadi tergelitik ingin terus menulis (dibarengi dengan mambaca, mendengar dan berdiskusi).
Kisah kasih antara Hanum dan Rangga sebagai dua sejoli yang
telah membangun bahtera rumah tangga di tengah-tengah kesibukan dan target
masing-masing menjadikan keduanya sempat berseteru di tengah-tengah cerita.
Namun kesempatan hidup ini tiada yang tahu, dan kesempatan untuk membahagiakan
orang-oranga yang menyayangi kita ataupun yang kita sayangi tak ada yang tahu
akan diminta kembali. Maka, saling memafkan , saling memahami serta penerapan
komunikasi yang saling terbuka dan harmonis lah yang perlu dipupuk satu sama
lain.
Dari cerita ini, kembali terpanggil memori akan rasanya
menjadi kaum minoritas. Namun, bumi ini adalah milik-Nya maka sudah sepantasnya
bukan iman-Nya yang terkalahkan dengan lingkungan namun rasa cinta-Nya lah yang
akan memahamkan orang sekitar. Bismillah. Terus berkarya dan terus belajar.
Beberapa poin yang dapat diambil dari film ini antara lain :
- Perkuat iman dengan terus mengambil hikmah dari setiap peristiwa
- Berfikir positif pada orang lain, karena mungkin orang lain bersikap “demikian” karena belum tahu
- Bismillah berani menyampaikan gagasan dan pemahaman kita dengan makruf karena bagaimanapun, kebaikan laksana air akan terus mencari jalan untuk menuju tempat yang ia tuju.
Pertanyaan terbesar yang muncul dari film ini adalah "Sudahkah anda bangga menjadi Muslim?"
Bismillahi tawakkaltu Alallah.
Bismillahi tawakkaltu Alallah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar