Selasa, 29 September 2020

Menanti Menteri Kesehatan Bersama Rekan-Rekan

Niat hati ingin rebahan sambil menanti datangnya rasa kantuk.

Tapi rebahan tak lengkap jika tanpa ponsel pintar yang menunduk.

Jadilah jempol ini tapping berkala di instagram yang bercerita. 

Tapi, sering kali ditemui story tentang penantian penuh asa.

Menanti Sang Menteri pemilik tampuk tertinggi dalam penanganan bencana kesehatan atau pandemi.

Ternyata, tidak hanya di lini story, tetapi juga trending di youtube dan twitter yang berisi. 

Sebagai manusia yang belajar tentang kesehatan masyarakat, tentu butuh terus belajar dan menyampaikan dengan cepat serta Bismillah semoga tepat. 

Baiklah, disini coba saya sampaikan beberapa poin yang bisa saya ungkap. 

Pertama, semua bermula ketika seseorang diberi jabatan sebagai bentuk kepemilikan wewenang dan pertanggungjawaban.

Apa saja sih tugas menteri kesehatan sebagai kepala dari kementerian kesehatan ? Check this out ! 
Berdasarkan informasi dari https://indonesia.go.id/kementerian-lembaga/kementerian-kesehatan-republik-indonesia 
Kementerian Kesehatan mempunyai tugas : menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang kesehatan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. 

Dalam melaksanakan tugas, Kementerian Kesehatan menyelenggarakan fungsi: 

  1. perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan masyarakat, 
  2. pencegahan dan pengendalian penyakit, pelayanan kesehatan, dan kefarmasian dan alat kesehatan;
  3. koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Kesehatan; 
  4. pengelolaan barang milik negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan; 
  5. pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan; 
  6. pelaksanaan pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia di bidang kesehatan serta pengelolaan tenaga kesehatan; 
  7. pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Kesehatan di daerah;
  8. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Kesehatan; dan 
  9. pelaksanaan dukungan substantif kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Kesehatan
Disini saya highlight tentang fungsi dalam pencegahan dan pengendalian penyakit, karena konteks yang menjadi penantian adalah perihal pencegahan dan pengendalian penyakit COVID-19 di negeri Indonesia tercinta. 

Kedua, pada nyatanya kasus COVID-19 nampak terus berkeliaran ria. 
Mari kita lihat bagaimana kurva jumlah kasus COVID-19 mulai dari bulan Maret 2020 hingga bulan September 2020. 

Berdasarkan grafik di atas, terlihat kurva masih terus mengalami kenaikan. Maka muncul pertanyaan, bagaimana penanganan atau pertanggungjawaban menteri kesehatan mengenai fenomena ini ? 
Sampai detik ini, Indonesia berada di ranking 25 besar, tepatnya ranking 23 jumlah kasus covid-19 tertinggi dari 215 negara yang terjangkit virus kelahiran Wuhan. (https://www.worldometers.info/coronavirus/?). 

Ketiga, kita coba bahas tentang negara lain nih. 
Boleh juga kalau dibaca sekilas tentang negara mana sih yang sudah dianggap baik dalam penanganan pandemi ini. Kita coba melihat salah satu hasil survey yang sudah dilakukan oleh https://www.pewresearch.org/global/2020/08/27/most-approve-of-national-response-to-covid-19-in-14-advanced-economies/ sebagai berikut: 


Sebenarnya apabila pandemi ini bisa diselesaikan dengan metode klasik ATM yakni Amati, Tiru, dan Modifikasi, maka negara kita bisa saja tinggal niru upaya dilakukan oleh negara yang sudah berhasil. Tapi kan jumlah penduduk nya beda, keadaan geografis nya beda, budaya penduduk nya beda, hingga jumlah anggaran yang dimiliki pun juga beda. Ups, sorry. Sebut-sebut hal yang sensitive (Peace sign). Kalimat penjabaran aspek-aspek perbedaan yang menjadikan penanganan di Indonesia berbeda dengan negara lain, bukan sebuah pembelaan terhadap ironi nya penanganan COVID-19 di negeri ini. Tetapi, sebagai penggambaran bahwa mindset penanganan kesehatan masyarakat atau penanganan hajat hidup orang banyak sebagai kebutuhan pokok masyarakat sangat membutuhkan kesatuan visi berbagai lini. 

Ke empat - Kebingungan tentang penanganan kesehatan masyarakat. 

Kesehatan masyarakat Menurut Winslow (1920) bahwa Kesehatan Masyarakat (Public Health) adalah Ilmu dan Seni : mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui “Usaha-usaha Pengorganisasian masyarakat “ untuk : (Notoatmodjo, 2003)
  1. Perbaikan sanitasi lingkungan
  2. Pemberantasan penyakit-penyakit menular
  3. Pendidikan untuk kebersihan perorangan
  4. Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan.
  5. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya (https://www.indonesian-publichealth.com/ilmu-kesehatan-masyarakat/
Dari definisi dan poin satu sampai lima, terkhusus pada poin lima, jelas sudah bahwa tercapainya kesehatan masyarakat terutama dalam keberhasilan penanganan COVID-19 merupakan kinerja lintas sektor mulai dari sosial, budaya, ekonomi, pertahanan, keamanan, pendidikan, hingga politik yang memiliki satu kesatuan tujuan yakni terciptanya kesehatan masyarakat. Kalimat ini, bukan berarti bahwa aspek lain berhenti dan hanya tentang kesehatan. Mindset bingung inilah bukti bahwa pemahaman tentang kesehatan masyarakat di negeri ini masih jauh dari fitrahnya. Memahami prioritas, berarti paham tentang apa yang menjadi sumber daya utama yang akan berdampak pada sumber daya yang lain. Prioritas dan fokus akan menghasilkan upaya strategis sehingga semua lini dapat berjalan semestinya. Tetapi, kalau ekonomi mencuat sebagai "nafas" yang dikategorikan menjadi negara berpenghasilan menengah ke atas ini, tahu kan gimana jadinya ? Atau lini lain yang mementingkan soal eksistensi atau apresiasi ? 

Dari sinilah mengapa judul artikel ini bukan menanti Pak Terawan, tetapi Menanti Menteri Kesehatan dan rekan-rekan karena sepertinya Pak Menteri Kesehatan yang mengepalai aspek kesehatan yang dinilai sebagai "beban" di era pandemi ini bisa menyampaikan juga bagaimana sinergisitas  satu dengan yang lain rekanan. Bisa lha duduk semeja di jamu oleh mbak Nana. Agar jelas kisah kasih perjuangan yang ada. Agar masyarakat bisa semakin paham bagaimana masa pandemi ini mengajarkan untuk menurunkan ego dan ambisi, kembali pada kesederhanaan dan kepatuhan hakiki, hingga membuktikan kata sinergi yang tak hanya ada di dalam hati. Stay healthy dan jaga diri. 
Semoga penantian ini berbuah kecerdasan dan kesehatan negeri. 

Kita coba terus lihat bagaimana akhir penantian ini. 
Yang sabar ya hayati. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar