Tanggal 10 September bertepatan dengan Hari Pencegahan Bunuh Diri se-dunia
Sumber gambar : http://www.spiritedblessings.com/world-suicide-prevention-day-2/
Fenomena depresi yang meningkat menjadikan bunuh diri mengalami kecenderungan mengalami peningkatan. Berdasarkan data WHO, 800.000 orang meninggal karena bunuh diri per tahun atau 1 orang setiap 40 detik. Kematian akibat bunuh diri di Indonesia tahun 2018 mencapai 8978 kematian atau 0,53% dari total kematian.
Keputus asa an atau hopelessness menjadi salah satu faktor yang menjadikan seseorang berniat ataupun melakukan bunuh diri. Hopelessness adalah sebuah rasa akibat pesimis tentang masa depan.
Ketika angka bunuh diri terus meningkat, maka berarti angka keputus asa an pun cenderung meningkat.
Karena identitas saya yang melekat adalah sebagai seorang muslimah, dan kelak ketika dimintai pertanggungjawaban adalah berdasarkan ilmu-Nya, maka saya akan coba melihatnya dari sudut pandang Islam.
Dari fenomena tentang bunuh diri dan putus asa, maka pertanyaannya adalah :
"Kok jadi mudah putus asa ? "
"Kenapa putus asa nya berjamaah ?"
Padahal Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam bersabda :
"Janganlah kamu berdua berputus asa dari rizki selama kepalamu masih bisa bergerak. Karena manusia dilahirkan ibunya dalam keadaan merah tidak mempunyai baju, kemudian Allah memberikan rizki kepadanya" (HR Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya).
Pertama baca hadits itu, jujur saya langsung meneteskan air mata. Masya Allah...
Kalau fenomena keputus asa an dialami individu, mungkin saja salah satu faktornya adalah lemahnya keimanan. Tetapi, kalau jumlahnya banyak yang terjadi maka tak bisa meninggalkan faktor lingkungan atau suasana. Ketika dirunut, kenapa banyak individu yang lemah iman nya ? Maka salah satu faktor kuat adalah suasana atau nafas peradaban sekuler kapitalis kemungkinan memiliki andil besar. Ketika kehidupan saat ini cenderung memisahkan agama dari aturan sehari-harinya. Ketika aturan ekonomi, politik, kesehatan, hingga sosial cenderung bermuara pada hawa nafsu dan dunia. Karena solusi dan pencegahan hakiki adalah pada hulu nya.
Itu masih salah satu kemungkinan akar masalahnya. Kalau teman-teman menemukan jawaban lain, please share juga ya.
#TetepAMNM
Refference :
https://www.who.int/mental_health/prevention/suicide/suicideprevent/en/
Rory C O’Connor, Matthew K Nock. 2014. The Psychology of Suicidal Behavior. https://www.thelancet.com/journals/lanpsy/home

Tidak ada komentar:
Posting Komentar